Ular, Petani, dan Sang Bangau
Natalya Dewi
Suatu ketika di zaman dulu, ular merupakan salah satu hewan yang dianggap berbahaya sehingga siapa saja yang berjumpa dengan mereka, wajib membunuhnya. Ular dianggap hewan yang sangat berbahaya. Sehingga tak heran bila di zaman itu kita sering melihat ular berlari menyelamatkan nyawanya dari para pemburu.
Suatu ketika seorang petani melihat seekor ular yang dikejar-kejar oleh para pemburu. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikannya, toh sudah merupakan pemandangan yang biasa kalau para pemburu memburu ular di desanya, namun sang ular, ketika tiba di tempat petani, dengan nafas tersenggal-senggal dalam ketakutannya memohon sang petani untuk menyelamatkan nyawanya. Karena kasihan, sang petani memutuskan untuk mengabulkan permohonan hewan melata itu.
Petani polos itu berjongkok dan membiarkan ular itu merayap masuk ke perutnya, ke balik bajunya. Para pemburu yang tidak bisa menemukan ular itu memutuskan pergi. Dan ketika bahaya berlalu, si petani meminta ular belang itu keluar namun si ular menolak.
“ Di dalam bajumu, aku merasa hangat dan aman, petani baik hati,” jawab sang ular menolak keluar.
Karena kesal, sang petani membiarkan sang ular tetap berada di balik bajunya sambil ia berrjalan pulang. Saat itu, petani melihat seekor burung bangau yang mendekatinya dan memberitahunya apa yang bisa dilakukannya untuk mengusir sang ular, dengan bisik-bisik tentunya.
Sang bangau memintanya untuk berjongkok dan melakukan gerakan-gerakan tertentu untuk membuat ular keluar. Ketika sang ular keluar, si bangau dengan cepat menangkapnya, menarik dengan keras dan segera membunuhnya. Si petani tiba-tiba menjadi cemas ketika ia melihat ada dua lubang hitam di perutnya, jangan-jangan sang ular mematuknya, pikirnya.
“Bangau, lihatlah ini,” kata sang petani menunjuk ke perutnya,” Aku khawatir sang ular sempat mematukku waktu kau tarik dia keluar tadi.” Petani pernah diberitahu neneknya bahwa kerja bisa ular sangat cepat, dan sekonyong-konyong ia bisa menemui sang malaikat maut.
“ Ah, tenang saja. Kuberitahu satu hal ya,” bisik sang bangau,” Aku tahu obat penawar bisa ular itu. Kamu hanya perlu menyantap enam ekor unggas putih. Itu kan hal yang gampang kau temukan.”
“ Oh, jadi cuma itu obatnya, “ kata petani sambil merenung,” Kamu juga kan termasuk unggas putih,” ujar sang petani,” Kau bisa menjadi hidangan unggas pertamaku,” dengan segera sang petani langsung menarik sang bangau, mengikat dan memasukkannya ke kantongnya untuk dibawa pulang. Di rumah ketika ia sedang mengantungkan bangau itu ia bercerita pada istrinya.
“ Aku cukup kaget mendengar ceritamu. Sang bangau yang sudah berbuat baik padamu, malah ingin kau bunuh,”kata istrinya.
“Berbuat baik bagaimana ?”
“ Burung itu telah berbuat baik padamu, ia telah memberitahumu cara menyingkirkan ular. Bahkan sudah membunuhnya untukmu. Ia telah menyelamatkan nyawamu. Bahkan ia memberitahumu apa yang harus kamu makan sebagai penawar racun ular itu. Namun sekarang kamu ingin memasaknya. Kalau hanya perlu enam unggas putih, kamu bisa mengambilnya dari kandang ayam di belakang rumah, kita punya ratusan ayam, Pak! “
“Tapi yang ada di depan mata kan bangau itu, untuk apa menangkap ayam..” keluhnya. Badannya sudah mulai panas dingin, keringat sebesar jagung mulai menetes di keningnya.
“ Tidaklah pantas berterima kasih pada penyelamat hidupmu dengan membunuhnya. Bapak bisa makan ayam atau itik. Biar kusuruh si bungsu menangkap dulu seekor untuk hidangan unggas penawar bisa ular itu.”
Sang petani menuruti saran istrinya dan aneh bin ajaib, setelah ia memakan enam unggas, enam hari kemudian, keadaan tubuhnya membaik, dan saat itu ia baru teringat dengan si bangau.
“ Bu, dimana kuletakkan bangau itu ?”
“ Sudah ibu pindahkan ke kolam belakang. Bapak cari saja di sana.”
Sang petani bergegas ke kolam dan ketika ia menemukan sang bangau, ia tak sanggup berkata-kata.
“ Maafkan aku yang berniat membunuhmu padahal kau begitu baik menolongku. Supaya bisa ular itu bisa sembuh, aku pernah berniat menikmati kelezatan dagingmu. Namun istriku telah menyadarkanku. Maafkan aku. Sekarang aku baru menyadari bahwa kamu benar-benar tulus menyelamatkan nyawaku, setelah makan enam hidangan unggas, kondisi tubuhku membaik kembali.”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Anggap saja ini pelajaran. Awalnya aku sangat marah dan berniat mencungkil kedua matamu. Biar kau juga merasakan betapa sakitnya hatiku. Namun karena kamu telah minta maaf padaku, ya sudahlah.”
“ Istrimu yang baik hati memintaku tetap tinggal disini. Karena sekarang kau juga sudah sehat, aku berniat pulang kembali ke keluargaku. Jaga dirimu,” ujar sang bangau seraya mengepakkan sayapnya, bersiap-siap untuk terbang.
“ Terima kasih atas kebaikan hatimu.”*