Makanan vs Suplemen, Mana yang Lebih Sakti
Natalya Dewi
Kita terbiasa ngemil buah-buahan, rajin mengkonsumsi kukus brokoli, wortel dan sayuran lainnya, tahu benar tentang lemak baik dan jahat, mengkonsumsi ikan salmon, menghindari daging merah, bahkan memasak hanya dengan minyak zaitun. Tapi di meja makan kita juga bertebaran berbagai multivitamin dan suplemen mineral dalam berbagai merek. Hmmm… bukankah makanan kita sudah cukup bernutrisi? Lantas untuk apa lagi kita mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral? Tapi ada juga golongan ahli yang mengatakan bahwa multivitamin tetap perlu walaupun pola makan kita sehat, karena saat ini kita hidup di tengah-tengah dunia yang penuh akan polusi dan radikal bebas yang bisa ‘menyakiti’ kita kapan saja. Jadi semakin bingung, bukan?
Mungkin ada sebagian dari pembaca yang pernah menghadiri seminar dari salah satu MLM yang membahas tentang pentingnya suplemen bagi tubuh. Apalagi dari hari ke hari, kita juga sering menyaksikan iklan-iklan tentang makanan tambahan, seperti suplemen penambah tenaga.
Menurut Siti ( nama samaran ), salah satu distributor MLM asal negeri Paman Sam, suplemen itu penting bagi tubuh. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari tidaklah cukup vitaminnya. Ia mencontohkan, bahwa kebutuhan vitamin C setiap hari bisa didapat dari 100 gram jambu biji atau beberapa buah jeruk, belum lagi kebutuhan vitamin yang lain. Ibu berambut panjang ini berucap bahwa dalam sehari tubuh kita perlu gizi mulai dari vitamin A, B, C, D, E, K, nissin, asam folat, natrium, kalium, kalsium, posfat sampai zat besi dan tentunya agak sulit mendapatkannya dari makanan. Apalagi mereka yang statusnya anak kos, apa cukup kebutuhan gizi dipenuhi dari nasi rantang pesanan mereka?
Apa sayur yang mereka makan tidak terkontaminasi pestisida ? Apakah cara memasaknya sudah benar sehingga kandungan vitamin masih ada atau sudah menguap ke udara saat dimasak ?
Lalu, apakah ketika kita pergi ke pasar, kita membeli 100 gr sayur hijau, 200 gr daging, dan semuanya itu berdasarkan komposisi kecukupan gizi ? Selain itu, kita juga terkadang senang makan fast-food atau sea-food, tentu saja makanan seperti ini tidaklah sehat namun enak bagi lidah. Banyak dari kita yang memilih untuk memanjakan lidah dan pelan-pelan menghancurkan badan sendiri. Karena itu, peranan suplemen dalam hal ini suplemen vitamin diperlukan. Fungsinya untuk mencukupi kebutuhan gizi kita.
Memang menurut Rizal ( nama samaran ), salah satu distributor yang tergabung dalam perusahaan yang sama dengan Bu Siti, harga sebotol suplemen vitamin terkesan mahal. Namun kita juga harus pintar membagi. Ambil contoh sebotol Vitamin C harganya Rp 170 ribu dan isinya 100 butir, perbutir harganya hanya Rp 1700 dan kita hanya perlu mengonsumsi satu sampai dua butir perhari. Coba anda hitung biaya yang perlu anda keluarkan untuk membeli jeruk, jambu, tomat, dan aneka sayur untuk memenuhi kebutuhan gizi,apa bisa anda beli dengan uang Rp 1700 ? Rp 1700 itu baru vitamin C lho, Pak! Bagaimana dengan vitamin lain ?
Lagi, menurut dr. Tom ( nama samaran ), salah satu dokter yang berdomisili di Jakarta yang juga merupakan distributor, mengatakan kalau dirinya tiap pagi sarapan dengan enam sendok protein dimana satu kaleng protein 40 sendok harganya Rp 280ribu. Apalagi ia juga berujar bahwa suplemen yang dikonsumsinya ini mutunya terbaik, dan manfaatnya bagi kesehatan sangat banyak. Menurutnya pengobatan kanker bisa dilakukan dengan mengonsumsi vitamin C kurang lebih butir 80 butir setiap harinya dimana 1botol 100 butir harganya Rp 170ribu.
Lain lagi pengalaman Bu Ria, ada konsumennya yang pernah mengatakan kalau ia diminta minum vitamin E untuk memperlancar proses melahirkannya karena vitamin E mengandung minyak. Dan jumlah yang disarankan di atas 20 tablet.
Beda dengan Bu Mimi yang terobsesi dengan suplemen ganggang dari salah satu multilevel nasional. Ia sudah rutin mengonsumsinya sejak sepuluh tahun yang lalu dan katanya bisa mengurangi sesak nafasnya.
Distibutor dari Multi level yang lain bahkan mengklaim bahwa mengonsumsi produknya sama dengan mengonsumsi berapa kg sayur dan tanaman hijau. Itu kalau kita berbicara dari sudut distibutor multilevel, yang memang berdasarkan survei penulis, kebanyakan multilevel yang hadir di Indonesia menawarkan suplemen.
Lantas bagaimana dengan toko-toko makanan kesehatan ? Kalau yang ini, biasanya para penjual sudah memastikan produk yang dijualnya aman bagi kesehatan. Kalau tidak, bila mereka ceroboh, toko mereka bisa ditutup dan produk mereka ditarik BPOM. Dan tentunya toko-toko sejenis bisa kita temui di mall atau plaza. Wiraniaga yang menjualnya dengan gamblang menyebutkan apa yang terkandung dan menyerahkan keputusan sepenuhnya ke tangan konsumen. Ini tentunya tidak terlalu mengganggu kenyamanan hidup dibandingkan distributor multilevel yang gigih merayu sampai si calon konsumen membeli. Tak jarang mereka tahan duduk di atas tiga jam di rumah calon konsumen dan menawarkan cara pembelian secara kredit atau di bawah harga konsumen. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka adalah orang marketing yang ada targetnya. Masih mending kalau si sales orang asing, bagaimana ceritanya kalau itu adalah sepupu atau orang yang masih terbilang keluarga ? Kadang untuk menghindar atau memberi muka, kita terpaksa merogoh kocek, padahal kita tak terlalu membutuhkan apa yang ditawarkan dan karena segan menolak ya terpaksa kita beli juga.
Pertanyaan besar yang sering muncul dari benak kita, bila klaim produk benar-benar bagus, mengapa perusahaan multilevel merekrut orang awam tanpa latar belakang kesehatan untuk menjadi konsultan kesehatan dan training bagi distributor dilakukan oleh sesama distributor yang kadang latar belakangnya dari keuangan, perdagangan, dan lain-lain. Mengapa suplemen tersebut tidak dipasarkan saja di mall, mengapa distributor tidak boleh memajang suplemen di display tokonya, mengapa sang distributor harus turut mengonsumsi produk yang dijualnya, mengapa ia harus menawarkan ke orang –orang terdekat, mengapa tidak langsung menawarkan ke dokter atau rumah sakit dan segudang mengapa- mengapa lain yang senantiasa timbul ? Lantas bagaimana pandangan seorang ahli gizi mengenai suplemen ?
Suplemen dari sudut pandang seorang ahli gizi
Natalya dewi
“Prinsipnya adalah memberi apa yang diperlukan tubuh,” jelas Dr. Rizali H. Nasution,” Tubuh kita memerlukan sumber energi, vitamin, mineral, air dan lemak.” Sumber energi umumnya kita peroleh dari karbohidrat yang merupakan golongan makanan pokok seperti beras, jagung, kentang, ubi, pendeknya makanan yang mengandung tepung. Fungsinya untuk menghasilkan tenaga. Sedangkan untuk proses pertumbuhan kita perlu bantuan protein yang berfungsi mengganti sel atau jaringan yang rusak. Sebelum berusia 18 tahun, fungsi protein kebanyakan untuk pertumbuhan yang didapat dari susu, telur, daging, ikan, tahu, tempe, sedangkan untuk mereka yang sudah berusia di atas 18 tahun, fungsi protein lebih mengarah ke penggantian sel atau jaringan tubuh yang rusak. Itu sebabnya ketika kita luka, tergores silet misalnya, luka kita bisa menutup kembali. Hal ini karena adanya protein, dan ini juga salah satu alasan mengapa orang yang kecelakaan saat dirawat di rumah sakit selalu diberikan protein tinggi.
Lain ceritanya dengan vitamin, tugasnya membantu mengolah makanan. Fungsi vitamin seperti lampu lalu lintas, mengatur lalu lalang zat makanan supaya tidak tabrakan. Dan biasanya vitamin banyak didapatkan dari buah-buahan. Lalu mineral yang memiliki fungsi yang hampir sama dengan vitamin juga memiliki fungsi membentuk alat-alat tubuh, contoh kalsium untuk pembentukan tulang yang bisa kita dapatkan saat makan daun ubi dan biasanya sayur-sayuran merupakan sumber mineral.
Setelah itu, air juga kita perlukan sebagai pelarut dan lemak sebagai bantalan, untuk menjaga agar suhu tubuh kita tetap stabil. Nah, untuk memenuhi semua ini kita cukup makan empat sehat yang terdiri dari beras, sayur, daging, dan buah. Contoh gampangnya adalah nasi padang yang dilengkapi dengan pisang. Dan menurut dr. Rizali, dengan makan empat sehat, kebutuhan gizi kita sudah mencukupi.
Lantas, apakah kita perlu mengonsumsi suplemen vitamin tertentu ? Tidak harus, toh kebutuhan gizi kita sudah terpenuhi, untuk apa lagi ditambah. Dokter yang juga ketua badan pendiri Humaniora-Pokmas Mandiri ini mencontohkan seperti vitamin C yang kita butuhkan sekitar 60mg setiap hari, kalau dari konsumsi buah saja sudah mencukupi, kita tambah lagi dengan makan suplemen, ini namanya MUBAZIR, karena vitamin C itu larut dalam air, dan tubuh hanya menyerap sebanyak yang diperlukannya. Kalau lebih ya dilarutkan dalam air dan keluar lagi. Bahkan mereka yang mengonsumsi vitamin C dalam jumlah tinggi padahal ia tidak terlalu membutuhkannya bisa jadi mencret. Lha, makan nasi terlalu banyak saja ada efeknya, makan suplemen terlalu banyak juga ada efeknya.
Lalu bagaimana dengan suplemen makanan yang ditawarkan distributor multilevel yang dalam klaimnya mengatakan bisa menyembuhkan ini itu ? Bagi dokter yang juga dosen di UISU, kalau benar apa yang mereka klaim, ya tentu saja kasihan dengan mereka yang berprofesi di bidang kesehatan. Kenapa tidak diletakkan di Carrefour saja, kalau klaimnya benar ya pasti ludes terjual dalam sekejap.
Makan nasi dan lauknya tetap menjadi kebutuhan pokok yang harus kita penuhi untuk bertahan hidup. Menurut sang ahli gizi, suplemen itu sifatnya hanya tambahan, bukan kebutuhan pokok.
Kapan kita memerlukan suplemen? Bila kita kurang gizi, hamil atau menderita penyakit kronis. Nah, terserah pembaca untuk memilih yang terbaik.*
Perhatikan label POM saat Anda membeli suplemen
Natalya Dewi
Ingin tahu apa pendapat Balai Pengawasan OBAT dan Makanan mengenai suplemen yang banyak beredar? Menurut BPOM, yang dinamakan suplemen itu adalah :
Produk yang digunakan untuk melengkapi zat gizi makanan yang mengandung satu atau lebih bahan berupa mineral,asam amino atau bahan lain berasal dari tumbuh tumbuhan atau bukan tumbuh tumbuhan yang mempunyai nilai gizi dan atau efek fisiologis dalam jumlah terkonsentrasi, bukan ditujukan untuk pengobatan atau pencegahan suatu penyakit tetapi untuk pemeliharaan kesehatan atau sebagai penambah asupan gizi tubuh. Hal senada juga diungkapkan dr. Rizali yang mencontohkan Tabloid Aplaus sebagai suplemen Harian Analisa, ada atau tidak adanya Aplaus yang penting Analisa-nya ada.
Menurut BPOM, suplemen wajib memiliki nomor pendaftaran sebelun diedarkan di masyarakat dimana produk yang sudah didaftar akan diperiksa sesuai dengan prioritas dan dana yang tersedia. Lalu, produk suplemen tidak diperkenankan mengklaim khasiat sebagai obat. Dan semua produk suplemen berada di bawah pengawasan BPOM, dalam arti wajib terdaftar sebelum diedarkan, apalagi yang berasal dari luar negeri.
Sekalipun suatu produk sudah memiliki nomor POM, bila ditemukan ada penyimpangan akan diminta menarik kembali produknya dan sang produsen harus memberikan laporan berkala mengenai produknya.
Jadi, kita perlu teliti dalam membeli suatu produk. Baca dulu labelnya, apakah ada nomor POM, bila ada, itu berarti produk tersebut sudah diuji dan bebas dari zat kimia. Bila belum ada nomor, lebih baik urungkan niat untuk membeli sekalipun anda sangat tergiur dengan khasiat produk. Selain itu perhatikan tanggal kadaluarsa, dan jangan membeli produk yang sudah dekat tanggal kadaluarsanya. Pada beberapa produk suplemen, biasanya ada dicantumkan, namun kalau hanya dicantumkan tanggal produksi, biasanya, kita tinggal menambah dua tahun dari tanggal produksi untuk mengetahui kapan kadaluarsanya produk itu.*
Suplemen,
To take, or not to take
Natalya dewi
Well, sebetulnya mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral tambahan adalah hal yang baik, selama tidak melebihi RDA, angka kecukupan gizi maksudnya (umumnya angka RDA ini tertera di label kemasan). Tapi sebenarnya kita bisa kok memperkirakan apakah makanan yang kita makan sudah cukup bergizi atau masih butuh tambahan suplemen dari luar. Caranya adalah dengan merasakan sendiri kondisi tubuh kita. Jika kita selalu merasa lemas dan kurang energi, kulit kita kering dan kusam, kuku mudah patah, mood mudah berubah-ubah, biasanya adalah tanda-tanda umum kekurangan nutrisi. Langkah pertama yang musti dilakukan adalah pastikan makanan kita kaya akan zat gizi, maksudnya jika kita selama ini makan makanan yang tidak seimbang atau bahkan tidak sehat, ya diperbaiki dulu pola makannya. Jika sudah memperbaiki pola makan namun masih merasa kurang sehat, barulah mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral. Tapi kalau dengan pola makan kita sehari-hari (tanpa suplemen apapun) kita sudah merasa segar dan fresh setiap saat, bisa dibilang kita sudah cukup mendapatkan nutrisi dari makanan kita.
Di bawah ini adalah beberapa suplemen yang populer yang mungkin memang kita butuhkan (dan boleh dikonsumsi hanya jika kita perlukan) :
Vitamin C
Kapan : Jika Anda mudah terkena flu, atau untuk siapapun dengan gejala-gejala awal infeksi (demam, pembengkakan)
Mengapa : beberapa penelitian menunjukkan bahwa 1000mg vitamin C perhari bisa membantu mengurangi gejala-gejala flu dan juga memperpendek durasinya.
Vitamin E
Kapan : jika seseorang memiliki resiko tinggi penyakit jantung yang didapatnya baik dari sejarah keluarga, obesitas, kandungan kolesterol ataupun tekanan yang tinggi
Mengapa : suatu penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine melapurkan bahwa 87.000 orang perawat yang mengkonsumsi 67 mg vitamin E tiap hari selama 2 tahun mengalami penurunan resiko serangan jantung sampai 40%.
Evening Primrose Oil
Kapan : Jika seorang wanita mengalami nyeri payudara sebelum haid
Mengapa : beberapa uji klinis menunjukkan bahwa mengkonsumsi 6 sampai 8 butir kapsul evening primrose oil 500mg setiap hari selama 4 bulan bisa mengurangi nyeri payudara akibat menstruasi.
Magnesium
Kapan : jika seorang wanita menderita keram otot dan migrain saat haid atau sebelum haid
Mengapa : penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengalami nyeri saat PMS memiliki kadar magnesium yang rendah dalam sel darah merah mereka dibandingkan wanita yang tidak mengalami gejala-gejala tersebut. Kekurangan magnesium memang bisa menyebabkan pembuluh-pembuluh darah menjadi kaku. Direkomendasikan mengkonsumsi uplemen magnesium 200 mg perhari selama 3 bulan.
Zinc
Kapan : jika siapapun berusaha untuk memiliki keturunan
Mengapa : Zinc adalah nutrisi yang paling banyak diteliti dalam hal fertilitas pria dan wanita. Kekurangan zat ini bisa menyebabkan perubahan kromosom baik pada pria maupun wanita, yang akan mengurangi fertilitas dan meningkatkan resiko keguguran. Direkomendasikan mengkonsumsi suplemen zinc 30 mg perhari *
Kisah di balik penemuan 1000mg vitamin C
Di belakang maraknya suplemen vitamin megadosis, ada seorang tokoh yang berjasa. Linus Pauling, PHD peraih dua penghargaan Nobel untuk kimia (1954) dan perdamaian (1962).
Temuannya yang paling populer adalah:
Vitamin C dosis tinggi dapat mencegah selesma dan flu hingga 45%, mencegah serta menyembuhkan 75% dari semua kanker, dan memperpanjang masa hidup penderita kanker hingga 4-5 kali lebih lama (dibandingkan dengan yang tidak mendapat terapi vitamin C tersebut).
Secara umum, Pauling mengklaim bahwa konsumsi vitamin(-vitamin) dalam megadosis dapat
“memperbaiki kesehatan… meningkatkan kenikmatan hidup dan membantu mengendalikan penyakit jantung, kanker, dan penyakit lain serta memperlambat proses penuaan”.
Merasa pernah mendengar bunyi klaim tersebut dari produsen suplemen dan menjadi tertarik mengonsumsi produknya? SELAMAT! Anda sudah terjebak dalam quakery
Terjemah bebas quackery dalam bahasa Indonesia adalah usaha apapun yang melibatkan promosi suatu produk atau sistem kesehatan secara berlebihan.
Klaim Pauling mengenai terapi megadosis vitamin C untuk penderita kanker diuji dan dikaji ulang oleh MayoClinic sebanyak 3 kali dengan hasil:
TIDAK ADA keuntungan yang konsisten dari vitamin C yang diberikan pada penderita kanker stadium lanjut. Bahkan, vitamin C dosis tinggi dapat memberikan dampak yang berlawanan.
Dosis oral (diminum) yang tinggi dapat menyebabkan diare. Sedangkan dosis tinggi yang diberikan lewat infus (intravenous) menyebabkan gagal ginjal akibat penyumbatan oleh kristal oksalat.
Walaupun fakta ini sudah gamblang dinyatakan, mengapa masih banyak orang yang ‘bersaksi’ bahwa vitamin C dosis tinggi berguna dan banyak membantu?
Vitamin C memberikan efek antihistamin. Sedangkan histamin -dalam konsentrasi berbeda-beda- hampir selalu dilepas dalam saluran pernafasan sebagai reaksi serupa-alergi terhadap selesma. Sehingga yang dirasakan oleh penderita selesma (atau flu) adalah perbaikan yang ‘palsu’.
Rekomendasi penggunaan vitamin dalam megadosis oleh Pauling bisa jadi ‘menyemangati’ para produsen suplemen untuk membanjiri pasar dunia dengan produk mereka.
Tuduhan ‘main mata’ antara Pauling dan industri vitamin bukan omong kosong, sebab donor utama Linus Pauling Institute of Medicine adalah Hoffmann-La Roche, perusahaan farmasi besar yang memproduksi mayoritas vitamin C yang beredar di dunia pada saat itu (sekitar tahun 1973).
Pada tahun 1994, Arthur Robinson (kolega Linus Pauling dalam penelitian) membuat rangkuman hasil penelitian yang menyebabkannya dipecat dari Linus Pauling Institute of Medicine:
Vitamin C dosis 1 – 5 gram per hari meningkatkan laju pertumbuhan kanker pada manusia. Namun pertumbuhan kanker terhambat pada dosis 100 gram per hari, mendekati dosis mematikan.
Masih berpikir bahwa semakin besar dosis vitamin maka akan semakin besar manfaatnya? Saya harap tidak.
Save your money. Think smart, act wise, live healthy. Jangan terjebak pada klaim indah suplemen.